Tag Archives: Procyon

Klasifikasi Bintang : Berdasarkan pada Kelas Spektrumnya dan Kelas Luminositas

Klasifikasi Bintang – Dulu, sebelum manusia memiliki peralatan astronomi canggih. Kita hanya mengenai Matahari sebagai satu-satunya bintang di angkasa. Nah, di zaman modern ini dengan berbagai alat-alat astronomi canggih. Manusia dapat melakukan observasi dan mengamati berbagai bintang yang ada di langit termasuk mengklasifikasikannya dalam berbagai jenis.

Ada banyak sekali bintang-bintang di alam semesta. Jumlahnya pun sangat banyak, alias tak terhitung. Untuk memudahkan pengelompokannya, para ilmuwan pun memasukkan jenis-jenis bintang di luar angkasa dengan klasifikasi khusus.

Pengertian Bintang

Bintang adalah benda langit berukuran raksasa yang mampu memancarkan cahayanya sendiri. Matahari sendiri adalah bintang di tata surya kita, sekaligus hanya 1 dari sekian banyaknya bintang yang ada di luar angkasa.

Cahaya yang dipancarkan oleh Bintang ini merupakan sumber cahaya bagi planet-planet atau benda langit lainnya yang mengelilinginya. Setiap jenis bintang di luar angkasa memiliki spesifikasinya sendiri-sendiri. Mulai dari struktur hingga ukuran. Di malam hari, kita dapat melihat bintang-bintang ini di langit. Jumlahnya banyak sekali dan mereka berkelap-kelip dengan indah di langit malam. Untuk memudahkan proses klasifikasi, para astronom membagi bintang ini berdasarkan kategori tertentu.

Sejarah Permulaan Klasifikasi Bintang

Tahun 1814, Fraunhofer telah mencatat dan memetakan sejumlah garis gelap yang berada dalam spektrum Matahari apabila cahayanya dijadikan terlewat pada suatu garis prisma. Garis-gari ini sering disebut sebagai garis Fraunhofer.

Kirchhoff dan Bunsen menemukan bahwa seperangkat garis tersebut berkomunikasi dan berinteraksi dengan elemen kimia di lapisan atas matahari. Melalui penelitiannya, Fraunhofer kemudian juga mendapati kalau bintang-bintang itu juga memiliki spektrum layaknya Matahari. Tapi, dengan pola garis gelap yang terlihat berlainan.

Tahun 1867, seorang astronom Yesuit yang Bernama Angelo Secchi melakukan penyelidikan terhadap +- 4000 spektrum bintang menggunakan prima objektif. Kemudian, ia menggolongkan bintang-bintang tersebut berdasarkan kelas spektrumnya menjadi 3 kelas.

Penggunaan fotografi dalam bidang astronomi akhirnya juga membuka kesempatan slot gacor yang lebih luas untuk mempelajari spektrum bintang. Tahun 1886, Edward Charles Pickering memulai observasinya terhadap spektrum bintang menggunakan fotografi dengan lensa Objektifnya. Penelitian ini dilakukan di Observatorium Harvard, Amerika Serikat.

Klasifikasi Bintang Berdasarkan Kelas Spektrumnya (Harvard)

Bintang Kelas O

Bintang yang sangat panas, dengan suhu atau temperatur permukaan yang bisa mencapai 25.000 Kelvin lebih. Bintang-bintang yang ada dalam deret kelas O ini memiliki warna tampak yang sangat biru. Meskipun, sebenarnya energi yang dipancarkan pada gelombang ultraungu atau pada panjang gelombang ungu.

Berdasarkan pola spektrumnya, garis-gari serapan terkuatnya berasa dari atom Helium yang telah terionisasi sebanyak 1 kali dan karbon yang telah terionisasi sebanyak 2 kali. Sementara itu, garis-garis serapan dari ion juga terlihat. Terutama, di selangnya yang berasal dari ion-ion oksigen, nitrogen, dan juga silikon.

Garis Balmer Hidrogennya juga tak tampak karena seluruh atom Hidrogen berada dalam situasi terionisasi. Bintang deret O ini juga merupakan bintang yang sangat jarang dalam selang bintang deret utama yang lainnya.

Bahkan, pertandingannya antara 1 : 32.000.

Namun, karena memiliki pancaran yang sangat terang. Maka, rasanya tidak akan sulit menemukan bintang deret O ini diantara kumpulan bintang lainnya. Bisa mencapai 1 juta kali energi Matahari.

Selain itu, dalam klasifikasi bintang deret O ini. Bintang-bintang yang termasuk didalamnya juga sangatlah massif, dapat membakar hidrogen dengan sangat cepat.

Contohnya : Zeta Puppis

Kelas B

Merupakan bintang panas yang memiliki temperatur permukaan antara 11.000 – 25.000 Kelvin. Umumnya memiliki warna putih biru. Berdasarkan garis atau pola spektrumnya, garis serapan terkuat bintang ini berasal dari atom helium netral. Dari seluruh populasi bintang pada deret utama, hanya ada sekitar 0,13% pada bintang kelas B. contohnya : Rigel dan Spica.

Kelas A

Klasifikasi bintang yang selanjutnya adalah Kelas A. Bintang yang ada di Kelas A ini memiliki temperatur permukaan dari 7.500 hingga 11.000 Kelvin. Warnanya putih. Karena tidak terlalu panas (apabila dibandingkan dengan bintang kelas O dan B). maka, atom hydrogen dalam atmosfernya akan berada di situasi netral. Garis-garis Balmer juga akan terlihat sangat kuat pada kelas ini.

Bintang kelas A ini juga bertambah kurang dari 0.63 % dari populasi bintang di deret utama. Contohnya : ada Bintang Sirius dan Vega.

Kelas F

Memiliki temperatur permukaan sekitar .6000 hingga 7.500 Kelvin. Warnanya putih-kuning. Spektrumnya memiliki pola garis-garis Balmer yang bertambah lemah dibandingkan bintang kelas A. Bertambah kurang dari 3,1% dari seluruh populasi bintang deret utama di alam semesta. Contoh bintang yang termasuk dalam klasifikasi bintang kelas F adalah Canopus dan Procyon.

Kelas G

Bintang yang berada di kelas G ini memiliki suhu permukaan selang antara 5000 hingga 6000 Kelvin dan memiliki warna kuning. Garis-garis Balmernya bertama lemah dibandingkan bintang kelas F. Namun, garis-garis ion logam dan logam netral yang dimilikinya semakin menguat.

Kurang dari 8% dari keseluruhan bintang deret utama. Contoh bintang yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah : Matahari, Capella, dan Alpha Centauri A.

Kelas K

Memiliki warna Jingga, temperaturnya sedikit lebih dingin dibandingkan dengan Bintang Kelas G seperti Matahari, yakni antara 3.500 – 5.000 derajat Kelvin. Beberapa bintang kelas K ini adalah bintang raksasa dan magaeaksasa. Bintang di kelas ini umumnya juga memiliki logam netral yang bertambah kuat dibandingkan dengan bintang kelas G.

Garis-garis TiO atau Molekul Titanum Oksidanya juga mulai tampak. Jumlahnya kurang lebih 13% dari seluruh populasi bintang yang ada di deret utama. Contohnya : ada Bintang Alpha Centauri B, Arcturus, dan Aldebaran.

Kelas M

Memiliki warna merah dengan temperatur permukaan kurang dari 3.500 derajat Kelvin. Seluruh bintang katai merah termasuk dalam klasifikasi bintang jenis ini. Biasanya, bintang yang termasuk dalam jenis ini adalah bintang yang berada dalam fase raksasa dan Maharaksasa. Garis serapan dalam spektrumnya berasal dari kandungan logam netral. Sementra itu, garis-garis Balmernya juga hampir tak tampak sama sekali. Sedangkan, garis dari molekul titanium oksidanya tampak sangat jelas. Jumlahnya sekitar 78% dari seluruh populasi bintang deret utama.

Contoh bintang yang termasuk dalam klasifikasi bintang M ini adalah : Antares, Proxima Centauri, dan Betelgeuse.

Klasifikasi Yerkes (Kelas Luminositas)

Dikembangkan pada sekitar tahun 1943 oleh Phillip C. Keenan, William Wilson Morgan, dan Edith Kellman yang berasal dari Observatorium Yerkes. Berdasarkan pada ketajaman garis spektrum yang lebih sensitif pada gravitasi permukaan bintang.

Klasifikasi bintang jenis ini membagi bintang menjadi beberapa kelas, seperti :

  • Kelas 0 : ada Bintang maha maha raksasa (hypergiants).
  • Kelas 1 : ada Bintang maharaksasa (supergiants). Terbagi menjadi bintang maharaksasa terang, bintang kelas selang maharaksasa terang dan yang kurang terang, dan bintang maharaksasa kurang terang.
  • Kelas II : ada bintang raksasa terang (bright giants).
  • Kelas III : ada bintang raksasa (giants).
  • Kelas IV : ada bintang sub-raksasa (sub giants).
  • Kelas V  : ada bintang deret utama atau katai (main sequence atau dwarf).
  • Kelas VI  : ada bintang sub-katai (sub dwarfs).
  • Kelas VII : ada bintang katai putih (white dwarfs).