Teori Big Bang, Awal Mula Penciptaan Alam Semesta!

Kamu pasti sudah tak asing lagi bukan dengan teori astronomi terpopuler satu ini? Ya, teori tersebut adalah teori Big Bang. Teori ini mengemukakan bahwa asal mula penciptaan alam semesta itu karena adanya ledakan dahsyat yang kemudian disebut sebagai “Big Bang”.

Sebenarnya, teori asal mula alam semesta sendiri bukan hanya Teori Big Bang lho. Masih ada beberapa teori lainnya seperti Teori Keadaan Tetap, Teori Osilasi, dan Teori Nebula. Diantara beberapa teori tersebut, teori Big Bang lah yang paling populer dan paling banyak dipercaya.

Lalu, sebenarnya apa sih teori Big Bang itu? Yuk, langsung saja simak pembahasannya berikut ini!

Apa Itu Big Bang?

Big Bang atau Ledakan Dahsyat/Dentuman Besar (The Big Bang dalam Bahasa Inggris) adalah suatu kejadian/peristiwa yang menjadi penyebab terbentuknya alam semesta. Hal ini sendiri didasarkan pada beberapa kajian kosmologi seputar bentuk awal dan perkembangan alam semesta dari waktu ke waktu.

Berdasarkan permodelannya, diketahui bahwa dulu alam semesta kita berada dalam kondisi yang sangat panas. Kemudian, mengembang secara terus-menerus hingga saat ini. Nah, berdasarkan pengukuran terbaik yang dilakukan pada tahun 2009. Keadaan alam semesta (awal) bermula setidaknya 13,7 miliar tahun yang lalu. Waktu ini kemudian dijadikan sebagai referensi waktu terjadi Ledakan Dahsyat ini.

Teori ini sendiri dinilai mampu memberikan penjelasan yang paling akurat dan komprehensif serta didukung oleh berbagai metode ilmiah dan pengamatan dari para ahli (ilmuwan).

Lalu, siapa orang pertama yang dianggap memunculkan konsep Big Bang ini? Orang tersebut adalah Georges Lemaître yang merupakan seorang biarawan Katolik Roma di Belgia. Saat itu, Georges Lemaître menyebutnya sebagai “Hipotesis Atom Purba”.

Kerangka model ini sendiri tergantung pada relativitas umum Albert Einstein. Beserta dengan beberapa asumsi lainnya seperti isotropi ruang dan homogenitas.

Persamaan yang mendeskripsikan Teori Big Bang sendiri dirumuskan oleh Alexander Friedmann. Sesudah Edwin Hubble (tahun 1929) mendapati bahwa jarak antara Bumi dengan galaksi yang terbilang sangat jauh, akan berbanding lurus dengan geseran merahnya (sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Georges Lemaître tahun 1927).

Pengamatan ini kerap mengindikasikan kalau semua galaksi dan gugus bintang (yang jaraknya sangat jauh) memiliki kecepatan tampak (yang secara langsung) akan menjauhi titik pandang. Jadi semakin jauh objeknya, maka kecepatan tampaknya akan semakin besar.

Apabila jarak antar gugus galaksi tersebut semakin meningkat (layaknya yang terpantau sekarang). Maka, seharusnya semuanya pernah berdekatan di masa lalu. Secara rinci, gagasan ini akan mengarahkan ke suatu keadaan dimana massa jenis dan suhu yang sebelumnya sangat ekstrem.

Teori Big Bang ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelasan perubahan umum alam semesta semenjak pengembagan awalnya.

Sejarah Teori Big Bang

Dalam teori ini, dijelaskan bahwa alam semesta terbentuk melalui suatu ledakan yang amat besar. Hal ini terjadi milyaran tahun yang lalu (para ilmuwan memprediksi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu). Setelah terjadi ledakan/dentuman besar tersebut, ada sejumlah besar lontaran material yang pada akhirnya menyebar ke seluruh alam semesta.

Material yang terlontar tersebut terdiri atas partikel-partikel seperti neutron, proton dan elektron. Partikel tersebut dapat terbentuk pada kurun waktu 10-4 detik. Proses pembentukan inti yang sangat kecil pun hanya memerlukan waktu sekitar 3 menit.

Ketika terjadi ledakan ini, suhunya diperkirakan mencapai 70 kali lipat suhu matahari sekarang ini. Bahkan, butuh waktu sekitar 500.000 tahun untuk mendinginkannya (elektron dan intinya). Akhirnya, setelah melewati waktu yang panjang material tersebut akhirnyabBersatu dan membentuk sebuah planet, satelit, asteroid, meteor, debu-debu kosmik, dan berbagai macam partikel lainnya.

Sekitar tahun 1912, dilakukanlah pengukuran nebula spiral menggunakan Efek Doppler dari Vesto Slipher untuk pertama kalinya. Nebula spiral sendiri merupakan nama lain dari Galaksi Spiral. Melalui pengukuran inilah, mulai muncul banyak penelitian tentang alam semesta yang dilakukan oleh para ahli (ilmuwan).

10 tahun kemudian seorang kosmologis dan matematikawan bernama Alexander friedman dari Rusia,  mengemukakan bahwa alam semesta ini akan terus mengembang.  Hal ini tentu saja berlawanan dengan model alam semesta statis yang dinyatakan oleh Einstein.  Pada tahun 1924, Edwin Hubble  juga melakukan sebuah penelitian terhadap model Nebula.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, awal teori Big Bang ini dikemukakan oleh Abbe Georges Lemaitre  Pada tahun 1927. Menurut Abbe Georges Lemaitre, alam semesta ini awalnya berasal dari gumpalan superatom berbentuk bola api yang berukuran sangat kecil. Meskipun ukurannya sangat kecil, namun gumpalan bola api ini memiliki massa jenis yang luar biasa besar dengan suhu mencapai +- 1 triliun derajat Celcius.

Sesaat sebelum terjadinya ledakan, gumpalan bola api ini bertambah menjadi 1,75 cm. Makin lama ukurannya makin bertambah dengan sangat cepat. Pada akhirnya, pada detik ke-0 (waktu mulainya big bang) ada ledakan dahsyat yang menghamburkan beberapa material ke alam semesta.

Setelah terjadinya ledakan tersebut, ada pancaran energi dalam jumlah yang sangat besar di alam semesta. Hal ini nantinya akan membentuk materi pembangun di alam semesta. Salah satu materi tersebut adalah atom hidrogen. Atom hidrogen yang terlempar tersebut lambat laun berkumpul, membentuk debu dan awan hydrogen (biasa disebut sebagai nebula).

Makin lama, nebula tersebut semakin memadat hingga akhirnya bersuhu jutaan derajat Celcius. Nebula (awan Hidrogen) ini kemudian yang menjadi awal mula pembentukan bintang-bintang. Bintang-bintang itu akhirnya akan berkumpul dan membentuk kelompok galaksi. Dari galaksi inilah, kemudian lahir milyaran sistem tata surya. Sistem tata surya kita sendiri hanya salah satu dari ribuan bahkan milyaran tata surya lain di seluruh semesta.

Meskipun telah terjadi selama jutaan tahun yang lalu, namun kekuatan Big Bang sendiri masih terasa hingga sekarang.  Hal ini dapat dibuktikan karena alam semesta yang sekarang masih terus berkembang dan meluas dari waktu ke waktu.  Beberapa galaksi bahkan diyakini semakin menjauh antara satu dengan yang lainnya.  Gerakan tersebut akan sampai pada batas maksimalnya.  Jika sudah mencapai batasnya, para ahli percaya bahwa benda-benda di alam semesta akan berhenti menjauh dan pada akhirnya tertarik lagi oleh gravitasi universal dan kembali ke titik awal permulaan ledakan.

Kesimpulan

Nah, itulah beberapa pembahasan seputar Teori Big Bang. Teori ini menjadi teori paling populer dalam memprediksi asal-usul penciptaan alam semesta. Nah, salah satu bukti terkuat dari kejadian The Big Bang ini adalah penemuan CMB yang tidak disengaja.

CMB atau gelombang mikro kosmis ini merupakan radiasi elektromagnetik tertua yang memenuhi seluruh ruang angkasa dan dinilai sebagai sisa dari The Big Bang. 

Apabila dideteksi menggunakan teleskop radio yang sifatnya sensitif. CMB sendiri akan terlihat seperti noise (cahaya redup) yang sebenarnya tidak berasal dari galaksi, bintang, atau benda langit manapun. CMB ini juga akan terdeteksi paling kuat di ranah gelombang mikro spektrum radio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.